Wangiwangi–Dengan berhasilnya budidaya karang buatan yang memiliki nilai ekonomis paling tinggi didunia, kedepan masyarakat Wakatobi, yakin; ”Selamat Tinggal Miskin (STL)”. Pasalnya, dengan membudidayakan satu media anakkan karang saja, dalam hitungan 6 bulan, masyarakat dalam setiap panen akan memperoleh rata-rata, Rp 25 Juta persatu Media. Dan kita yakin, masyarakatnya tidak mungkin, hanya menanam karang pada satu media saja, melainkan menanam lebih dari 10 media atau lebih. ”Mungkin...saja, banyak masyarakat akan menanam karang 1000 media, bahkan lebih, sesuai kemampuannya”. Hal ini dikatakan Hugua, ketika dalam perbincangannya, usai peresmian Laboratorium Bawah Laut (LBL) atau Laboratorium Basa, di Pulau Hoga Kaledupa pada hari Minggu (4/7).
Menurut Hugua, Karang buatan, hasil rekayasa, kalangan mahasiswa tersebut, sesuai hasil buah eksperimennya, selain memiliki dampak sistemik, ekenominya besar dimasyarakat wakatobi, juga akan meningkatkan nilai ekonomi, masyarakat didaerah ini. Demikian pula nilai home industri masyarakat akan sangat tinggi, tuturnya.
Dikatakannya pula, dari hasil budidaya mahasiswa ini, kita patut menghargai para peneliti dari Essex University asal Inggris ini. Melalui Operasion Walacea di Wakatobi, dapat membuka mata dunia. Karena Harga satu anakkan di Pasar dunia saat ini, sesuai keterangan Dr Clinton, harga persatu anakkan sebesar Rp 250.000 hinggga 350.000, kata Hugua mengingatkan.
Selanjutnya Hugua memaparkan, Existensi Laboratorium Basa di Pulau hoga yang Laboratorium paling aktif dikawasan Coral Triangle Initiative (CTI), dan baru saja diresmikannya tersebut, selain menjadi tumpuan harapan masyarakat dunia, dan masyarakat Wakatobi khususnya, juga Laboratorium tersebut, telah ditetapkan sebagai pusat kegiatan penelitian bawah laut Internasional. ”Dan saya yakin kedepan, didaerah ini, tidak akan pernah ada orang yang merusak karang lagi. Karena masyarakat terlibat sebagai pelaku ekonominya, satu ranting karang saja, mereka telah bisa menopang ekonomi keluarganya”, papar Hugua.
Selanjutnya Hugua, menjelaskan, keberhasilan budidaya karang buatan ini, masyarakat akan semakin cinta karangnya, menjadi mata pencahariannya, ”Yang Maha Dasyat”, karena memiliki nilai ekonomi. Hanya dengan membudidayakan karang selama 6 bulan atau lebih. Mereka telah menghasilkan jutaan rupiah, menghasilkan Ratusan anakkan karang”, jelasnya.
Diungkapkannya pula, cara budidaya karang yakni; karang yang masih hidup diambil diperairan, kemudian digunting sepajang 20 cm, selanjutnya disatukan dengan model semen yang telah dimodifikasi, disusun dengan jarak tanam 20 cm, selanjutnya, dimasukkan kedalam air laut. Hanya dalam waktu 6 - 9 bulan, karang tersebut, sudah siap untuk dipanen.
Selanjutnya pasca panen, para petani karang tersebut akan kita ajarkan, bagaimana cara pengepakkannya, dan bagaimana cara aman hingga sampai ketujuan ekspor. Adapun cara, pengepakkannya, pada tahap awal plastik diisikan denan air laut secukupnya, selanjutnya anakkan karang dimasukkan, di isi dengan oksigen secukupnya, lantas dikepak dengan dos, dan pasangkan lakban, susunannya jangan terbalik, siap dikirim dan ekspor keluar negeri”, ujarnya.
Adapun harga persatu anakkan karang dipasar Eropa, di Inggris, saat ini, nilainya anatara Rp 250 ribu hingga Rp 350 ribu peraanakkan. Bahkan karena banyaknya pesanan, sehingga perusahaannya, keolahan. Alternatifnya saat ini, membuka perwakilan, di Wakatobi, ungkap Hugua mengakhiri paparannya. (Gin).
Goverment of Wakatobi Regency
South East Sulawesi Province - Indonesia